Translate

Senin, 21 Oktober 2013


LEBARAN DUA VERSI, MUHAMMADIYAH "BIANG KEKACAUAN" ?

LEBARAN DUA VERSI, MUHAMMADIYAH "BIANG KEKACAUAN" ?

Oleh : Ahmad Musta'in Syafi'ie


Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim Asy'ari itu sekawan, sama-sama menunut ilmu agama di Arab Saudi. Sama-sama ahli Hadis dan sama-sama ahli fikih. Saat hendak pulang ke tanah air, keduanya membuat kesepakatan menyebarkan islam menurut skil dan lingkungan masing-masing.

Kiai Ahmad bergerak di bidang dakwah dan pendidikan perkotaan, karena berasal dari kuto Ngayogyokarto. Sementara kiai Hasyim memilih pendidikan pesantren karena wong ndeso, Jombang. Keduanya adalah orang hebat, ikhlas dan mulia. Allahumm ighfir lahum.

Keduanya memperjuangkan kemerdekaan negeri ini dengan cara melandasi anak bangsa dengan pendidikan dan agama. Kiai Ahmad mendirikan organisasi Muhammadiyah dan kiai Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Saat beliau berdua masih hidup, tata ibadah yang diamalkan di masyarakat umumnya sama meski ada perbedaan yang sama sekali tidak mengganggu.
Contoh kesamaan praktek ibadah kala itu antara lain : Pertama, shalat tarawih, sama-sama dua puluh rakaat. Kiai Ahmad Dahlan sendiri disebut-sebut sebagai imam shalat tarawih dua puluh rakaat di masjid Syuhada Yogya. Kedua, talqin mayit di kuburan, bahkan ziarah kubur dan kirim doa dalam Yasinan dan tahlilan (?). Ketiga, baca doa qunut Shubuh. Keempat, sama-sama gemar membaca shalawat (diba'an).

Kelima, dua kali khutbah dalam shalat Id, Idul Ftri dan Idul Adha. Keenam, tiga kali takbir, "Allah Akbar", dalam takbiran. Ketujuh, kalimat Iqamah (qad qamat al-shalat) diulang dua kali, dan yang paling monumental adalah itsbat hilal, sama-sama pakai rukyah. Yang terakhir inilah yang menarik direnungkan, bukan dihakimi mana yang benar dan mana yang salah.

Semua amaliah tersebut di atas berjalan puluhan tahun dengan damai dan nikmat. Semuanya tertulis dalam kitaf Fikih Muhammadiayah yang terdiri dari tiga jilid, yang diterbitkan oleh : Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka Jogjakarta, tahun 1343an H. Namun ketika Muhammadiyah membentuk Majlis Tarjih, di sinilah mulai ada penataan praktik ibadah yang rupanya " harus beda " dengan apa yang sudah mapan dan digariskan oleh pendahulunya. Otomatis berbeda pula dengan pola ibadahnya kaum Nahdhiyyin. Perkara dalail, nanti difikir bareng dan dicari-carikan.

Disinyalir, tampil beda itu lebih dipengaruhi politik ketimbang karena keshahihan hujjah atau afdhaliah ibadah. Untuk ini, ada sebuah Tesis yang meneliti Hadis-hadis yang dijadikan rujukan Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam menetapkan hukum atau pola ibadah yang dipilih.

Setelah uji takhrij berstandar mutawassith, kesimpulannya adalah : bahwa mayoritas Hadis-Hadis yang pakai hujjah Majlis Tarjih adalah dha'if. Itu belum dinaikkan pakai uji takhrij berstandar mutasyaddid versi Ibn Ma'in. Hal mana, menurut mayoritas al-Muhadditsin, hadis dha'if tidak boleh dijadikan hujjah hukum, tapi ditoleransi sebagai dasar amaliah berfadhilah atau Fadha'il al-a'mal. Tahun 1995an, Penulis masih sempat membaca tesis itu di perpustakaan Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Ygyakarta.

Soal dalil yang dicari-carikan kemudian tentu berefek pada perubahan praktik ibadah di masyarakat, kalau tidak disebut sebagai membingungkan. Contoh, ketika Majlis Tarjih memutuskan jumlah rakaat shalat Tarawih depalan plus tiga witir, bagaimana praktiknya ?.

Awal-awal instruksi itu, pakai komposisi : 4,4,3. Empat rakaat satu salam, empat rakaat satu salam. Ini untuk tarawih. Dan tiga rakaat untuk witir. Model witir tiga sekaligus ini vrsi madzahab Hanafi. Sementara wong NU pakai dua-dua semua dan ditutup satu witir. Ini versi al-Syafi'ie.

Tapi pada tahun 1987, praktik shalat tarawih empat-empat itu diubah menjadi dua-dua. Hal tersebut atas seruan KH Shidiq Abbas Jombang ketika halaqah di masjid al-Falah Surabaya. Beliau tampilkan hadis dari Shahih Muslim yang meriwayatkan begitu. Karena, kualitas hadis Muslim lebih shahih ketimbang Hadis empat-empat, maka semua peserta tunduk. Akibatnya, tahun itu ada selebaran keputusan majlis tarjih yang diedarkan ke semua masjid dan mushallah di lingkungan Muhammadiyah, bahwa praktik shalat tarawih pakai komposisi dua-dua, hingga sekarang, meski sebagian masih ada yang tetap bertahan pada empat-empat. Inilah fakta sejarah.

Kini soal itsbat hilal pakai rukyah. Tolong, lapangkan dada sejenak, jangan emosi dan jangan dibantah kecuali ada bukti kuat. Semua ahli falak, apalagi dari Muhammadiyah pasti mengerti dan masih ingat bahwa Muhammadiyah dulu dalam penetapan hilal selalu pakai rukyah bahkan dengan derajat cukup tinggi. Hal itu berlangsung hingga era orde baru pimpinan pak Harto. Karena orang-orang Muhammdiyah menguasai deprtemen Agama, maka tetap bertahan pada rukyah derajat tinggi, tiga derajat ke atas dan sama sekali menolak hilal dua derajat. Dan inilah yang selalu pakai pemerintah. Sementara ahli falak Nadhliyyin juga sama mengunakan rukyah tapi menerima dua derajat sebagai sudah bisa dirukyah. Dalil mereka sama, pakai Hadis rukyah dan ikmal.

Oleh karena itu, tahun 90an, tiga kali berturut-turut orang NU lebaran duluan karena hilal dua derajat nyata-nyata sudah bisa dirukyah, sementara Pemerintah-Muhammadiyah tidak menerima karena standar yang dipakai adalah hilal tinggi dan harus ikmal atau istikmal. Ada lima titik atau lebih tim rukyah gabungan menyatakan hilal terukyah, tapi tidak diterima oleh departemen agama, meski pengadilan setempat sudah menyumpah dan melaporkan ke Jakarta. Itulah perbedaan standar derajat hilal antara Muhammadiyah dan NU. Masing-masing bertahan pada pendiriannya.

Setelah pak Harto lengser dan Gus Dur menjadi presiden, orang-orang Muhammadiyah berpikir cerdas dan tidak mau dipermalukan di hadapan publiknya sendiri. Artinya, jika masih pakai standar hilal tinggi, sementara mereka tidak lagi menguasai pemeritahan, pastilah akan lebaran belakangan terus. Dan itu berarti lagi-lagi kalah start dan kalah cerdas. Maka segera mengubah mindset dan pola pikir soal itsbat hilal. Mereka tampil radikal dan meninggalkan cara rukyah berderajat tinggi. Tapi tak menerima hilal derajat, karena sama dengan NU.

Lalu membuat metode "wujud al-hilal". Artinya, pokoknya hilal menurut ilmu hisab atau astronomi sudah muncul di atas ufuk, seberapapun derajatnya, nol koma sekalipun, sudah dianggap hilal penuh atau tanggal satu. Maka tak butuh rukyah-rukyahan seperti dulu, apalagi tim rukyah yang diback up pemerintah. Hadis yang dulu dielu-elukan, ayat al-Qur'an berisikan seruan " taat kepada Allah, Rasul dan Ulil amr " dibuang dan arergi didengar. Lalu dicari-carikan dalil baru sesuai dengan selera.

Populerkah metode "wujud al-hilal" dalam tradisi keilmuwan falak ?. Sama sekali tidak, baik ulama dulu maupu sekarang.

Di sini, Muhammdiyah membuat beda lagi dengan NU. Kalau dulu, Muhammadiyah hilal harus berajat tinggi untuk bisa dirukyah, hal mana pasti melahirkan beda keputusan dengan NU, kini membuang derajat-derajatan secara total dan tak perlu rukyah-rukyahan. Menukik lebih tajam, yang penting hilal sudah muncul berapapun derajatnya. Sementara NU tetap pada standar rukyah, meski derajat dua atau kurang sedikit. Tentu saja beda lagi dengan NU. Maka, selamanya tak kan bisa disatukan, karena sengaja harus tampil beda. Dan itu sah-sah saja.

Dilihat dari fakta sejarah, pembaca bisa menilai sendiri sesungguhnya siapa yang sengaja membuat beda, sengaja tidak mau dipersatukan, siapa biang persoalan di kalangan umat ?.

Menyikapi lebaran dua versi, warga Muhammadiyah pasti bisa tenang karena sudah biasa diombang-ambingkan dengan perubahan pemikiran pimpinannya. Persoalannya, apakah sikap, ulah atau komentar mereka bisa menenangkan orang lain ?.

Perkara dalil nash atau logika, ilmu falak klasik atau neutik, rubu' atau teropong moderen sama-sama punya. Justeru, bila dalil-dalil itu dicari-cari belakangan dan dipaksakan, sungguh mudah sekali dipatahkan.

Hebatnya, semua ilmuwan Muhammadiyah yang akademis dan katanya kritis-kritis itu bungkam dan tunduk semua kepada keputusan majlis tarjih. Tidak ada yang mengkritik, padahal kelamahan akademik pasti ada. Minal aidin al-faizin, mohon maaf lahir dan batin.


Catatan:

Penulis adalah Direktur Madrasatul Qur’an Tebuireng KH. Musta’in Syafi’i, M.Ag.

copas-by ibiencaster.blogspot.com

Jumat, 04 Oktober 2013


























masa SMA yg takkan pernah terlupakan...


Hukum shalat
          Shalat adalah salah satu rukun islam yg kedua. Shalat adalah rukun islam yg terpenting kedua setelah kalimah syahadat.

Hikmah dalam shalat:
-shalat sebagai media penghubung antara manusia dengan tuhannya
-shalat adalah penolong segala urusan umat manusia
-shalat adalah sebagai cahaya yg akan menyinari ketika kelak dipadang                                     mahsyar
-shalat adalah suatu kebahagiaan setiap orng-orng yg melakukannya

Keutamaan dalam shalat;
-shalat merupakan tiang agama
-shalat sebagai pembeda antara umat kafir dan umat muslim
-shalat adalah perkara pertama yg akan dihisab pada setiap hamba
-shalat merupakan amalan yg paling utama/sebaik-baiknya amalan

Hikmah dari segi kesehatan;
-mulai dari berwudhu kita sudah membersihkan anggota tubuh dari segala penyakit/kuman
-dalam gerakan shalat sendiri setiap gerakan adalah bermanfaat untuk  melemaskan setiap persendian tulang
-dalam takbir merupakan awal mula pelatihan pernafasan
-dengan rukuk peredaran darah dan getah bening keleher akan lancar
-selain itu rukuk adalah melancarkan kandung kemih
-sujud mencegah waasir/dan menghindari kanker
-duduk antara dua sujud akan mengaktifkan kelenjar keringat sehingga menjegah otot dari pengapuran
-ketika salam dengan memalingkan kepala kekanan dan kekiri akan melemaskan otot leher dan mempercepat aliran getah bening dari leher kejantung


Kamis, 03 Oktober 2013

"ya allah, ketika hamba melihat orang-orang kesakitan merintih lirih, hamba merasa menjadi manusia yg paling bersyukur didunia ini....
ketika hamba menatap orang-orang kelaparan menahan perih, hamba malu karna hamba belum menjadi manusia seutuhnya membantu mereka....
hamba hanya bisa merasa peduli namun belum dapat memberi....
hamba hanya bisa meratapi mereka tapi tak bisa menunjang keadaan yg ada....
dan hamba hanya bisa bermunajah kepadamu ya rabb,
" hamba adalah manusia yg paling bersyukur dengan apa yg engkau berikan....



dan hamba bersyukur, karna dibalik derita mereka kau simpan seribu hikmah kebahagiaan.........
"ya rabb, ampunilah kami, hapuskanlah setiap dosa-dosa kami. meski yg kami rasa ini adalah derita keduniawian, tapi derita akhirat lebih tak bisa kami jalani ya rabb.............
kau maha pendengar dari doa hamba-hambamu....
kau maha melihat dari apa yg kami perbuat.....
.................................................................................................................................................................

Kamis, 26 September 2013

hy guys, kali ini ana sedikit memberi tausyah ya, soalnya berhubung ini hari jumat juga jadi ya bagi bagi nasehat lah.....

guys, kita ini sebenarnya hidup untuk ngapain sih....?
apakah untuk berhura2, atau sekedar numpang hidup dibumi allah.....

hidup itu pilihan guys, harus menumbangkan salah satu dari 2 pilihan hidup yg  berbeda....
tidak hanya harus memilih sebuah pilihan tapi juga menjalankan satu pilihan tersebut untuk menuai hidup yg selaras.
terkadang sebuah pilihan yg lucu n gag masuk akal harus kita jalani sesuai ritme kehidupan.
kadang pula pilihan tersebut malah mengarah kepada sebuah tantangan. tapi perlu kita ketahui, bahwa sebuah tantangan yg nyata adalah naskah pendewasaan diri yg sesungguhnya...

pernah saya membaca sebuah pribahasa yg teksnya begini,
 " layang-layang dapat terbang karna melawan angin, bukan terbang mengikuti arah mata angin.''
nah dari situ dapat diambil kesimpulan bahwa kita hidup itu sesuai dengan perlawanan kepada arus kehidupan, bukan untuk mengikuti alur. 
orang yg tak pernah siap untuk melawan kesengsaraan dialah orang yg tak siap menerima takdirnya.. dan orang yg hidup hanya dengan menggantungkan diri kepada orang lain atau semacamnya adalah orang yg layak disebut "hidup segan matipun tak mau", atau lebih kerasnya lagi bisa disebut dengan SAMPAH MASYARAKAT.

apa anda mau kalo disebut dengan julukan itu??? 

JANGAN!!!
jangan pernah mau untuk menjadi orang yg kecil dibenak orang lain. optimislah bahwa kita hidup bisa menjadi seseorang yg terpandang dimata dunia.
"jadilah warna dimana anda berada, bila warna disekeliling anda adalah hitam, maka warnailah sekeliling anda dengan berrrrrrrrragam warna. dan bila disekeliling anda sama sekali tanpa warna, alias hidup yg monoton(makan minum kerja dan tidur) maka rubahlah meski hanya satu warna yg menghidupkan....
maksudkan dengan pemaham saya...

to be continue dlu, ok.... natar sambung setelah selesai jumatan

Minggu, 22 September 2013

goresan pena

-jadilah warna disetiap kehidupan, karna memberikan warna disetiap hidup yg baru akan menjalankan setiap kekosongan, merubah suatu kepasifan, dan mendorongkan segala keaktifan(Muhammad Duan Salis).


  "hy, guys, bismillahirohmanirohim, dalam kesempatan yg menyempitkan ini alhamdulillah saya sudah bisa meluangkan waktu untuk berbagi kepada sahabat sahabat semua.
meski dalam garis besarnya ini adalah blog kecil dan sedikit ilmu, insya allah bermanfaat deh untuk sahabat pembaca semua.
 
saya mulai aja dari coretan pena saya ya,yg lainnya nyusul deh...........

 

 

 

Get merid be former love me

3 November 2012 pukul 7:38
Udara sejuk terasa mencengkramku pagi ini, ktka kabar bahagia trdengar drmu. Ktka semua kenangan lama akan terhapus tuk Slama.a Nnti, Ktka kau disana akan bahagia brsama org lain, dimana setiap keluhkesahmu akan landai memutar keadaan fakta, fatamorgana kejiwaan yg akan mengabadi dan menjadikanmu kenangan terburuk dlm sejaraH cinTaku inI... 
Selamat akan jodoh nyatamu saat ini dan bahagialah Ktka kau mengingatku...

SAJAK TERTINGGAL"KAMPUNG HALAMAN

7 September 2013 pukul 7:15
"saat aku beranjak pergi dipagi buta, akan ku titipkan desaku kepada siapa..?
haruskah aku tinggalkan sendiri sebagai tanda terkenang,"

"saat aku kembali, akan kupinta lg desaku kepada siapa...?
karna dulu desaku tak pernah kutitipkan kepada saudara,"

"haruskah aku pergi atau kembali hanya untuk melihat desa tertinggal-ku..?

"atau tak pernah pergi dan kembali agarku tak meninggalkan kenangan kepadanya..."

"desaku...
aku pergi untuk dpt melihatmu berubah



 di-kesendirian ku

23/09/2013

hanya angin yg menyapaku pagi ini...

tak kala aku merindukan salam sapamu, 
begitu jelas menepar kegalauan meradang digelap tatapku

ya..

pagi ini tak ada siapa siapa yg mampu buatku tertawa,
meski selaksa peristiwa sudah setia menungguku,
tp tak jelas mereka hanya mau membuatku kesepian

kicauan burungpun tak ada terniang didaun telingaku...

apakah lantaran ia ikuti setiap jejakmu yg seolah menjauhi ku,
atau....

ah...
andai saja kau mengerti,


bahwa aku sendiri adalah untuk 'bersama',
bersama kesepian,
bersama kegalauan,
dan tentu saja ,
bersama sama mencari arti hidup yg bersama.....................................................