Di hamparan gurun yg padu, usah
lagi ubah jadi butiran pasir.
Sekalipun nyaman kau ada
didalamnya, tak akan ada yg tau kalau kau melayang hilang.
Didalam gurun yg padu, usah kau
jadi kaktus.
Sekalipun hijau warnamu, engkau
tersebar dimana-mana. Tak akan ada yg akan menangis rindu padamu dikala mati
layu.
Dalam bentang gurun yg maha halus,
jangan kau harap kau jadi oase.
Sekalipun rasanya kau sendiri,
burung yg tinggi akan melihatmu ada dimana-mana.
Ditengah gurun yg terjebak, jadilah
salju yg abadi.
Embun pagipun tak akan menandingi
dinginnya sejukmu.
Angin malam akan menggigil ketika
singgah menerpamu.
Oase akan redup.
Dan kaktus akan ternganga.
Butir pasirpun akan tau jika kau
beranjak pergi, atau sekedar bergerak 2 inci.
Dan setiap gurun akan terinspirasi
karena kau berani beku dalam neraka,
Kau berani putih meski sendiri,
Dan kau berani, berbeda....
Dalam raga ada hati, dan dalam hati
ada satu ruang tak bernama. Ditanganmu tergenggam kunci pintunya.
Ruang itu mungil, isinya lebih
halus dari serat sutera. Berkata-kata yg hanya dipahami oleh bahasa nurani.
Begitu lemahnya ia berbisik, sampai
terkadang kau tak sedikitpun terusik. Hanya kehadirannya yg terus terasa, dan
bila ada apa-apa dengannya duniamu runtuh bagai pelangi meluruh usai gerimis.
Sentuhanya mencapai arogan tak
berdesis, hingga tatkala hati mengingatkan adanya sentuhan hati lain, dunia
dibalik hingga terjungkal kerongga untaian pembuta dunia.
Sinarnya silau hingga kau
terperangkap , dan hatimu menjadi
sasaran sekalipun engkau tersekap.
Banyak garis
batas memuai begitu engkau terbuai, dan dalam puja kau sedia serahkan
segalanya. Kunci kecil itu kau anggap pemberian paling berharga.
Satu garis jangan sampai kau tepis;
membuka diri bukan berarti menyerahkannya dan Memahami bukan berarti memudarkannya.
Karna, hanya engkau yg berhak ada
didalam inti hatimu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar