Translate

Sabtu, 03 Mei 2014

sajak with filosofi kopi



Di hamparan gurun yg padu, usah lagi ubah jadi butiran pasir.
Sekalipun nyaman kau ada didalamnya, tak akan ada yg tau kalau kau melayang hilang.
Didalam gurun yg padu, usah kau jadi kaktus.
Sekalipun hijau warnamu, engkau tersebar dimana-mana. Tak akan ada yg akan menangis rindu padamu dikala mati layu.
Dalam bentang gurun yg maha halus, jangan kau harap kau jadi oase.
Sekalipun rasanya kau sendiri, burung yg tinggi akan melihatmu ada dimana-mana.
Ditengah gurun yg terjebak, jadilah salju yg abadi.
Embun pagipun tak akan menandingi dinginnya sejukmu.
Angin malam akan menggigil ketika singgah menerpamu.
Oase akan redup.
Dan kaktus akan ternganga.
Butir pasirpun akan tau jika kau beranjak pergi, atau sekedar bergerak 2 inci.
Dan setiap gurun akan terinspirasi karena kau berani beku dalam neraka,
Kau berani putih meski sendiri,
Dan kau berani, berbeda....





Dalam raga ada hati, dan dalam hati ada satu ruang tak bernama. Ditanganmu tergenggam kunci pintunya.
Ruang itu mungil, isinya lebih halus dari serat sutera. Berkata-kata yg hanya dipahami oleh bahasa nurani.
Begitu lemahnya ia berbisik, sampai terkadang kau tak sedikitpun terusik. Hanya kehadirannya yg terus terasa, dan bila ada apa-apa dengannya duniamu runtuh bagai pelangi meluruh usai gerimis.
Sentuhanya mencapai arogan tak berdesis, hingga tatkala hati mengingatkan adanya sentuhan hati lain, dunia dibalik hingga terjungkal kerongga untaian pembuta dunia.
Sinarnya silau hingga kau terperangkap , dan hatimu  menjadi sasaran sekalipun engkau tersekap.
 Banyak garis  batas memuai begitu engkau terbuai, dan dalam puja kau sedia serahkan segalanya. Kunci kecil itu kau anggap pemberian paling berharga.
Satu garis jangan sampai kau tepis; membuka diri bukan berarti menyerahkannya dan Memahami bukan berarti memudarkannya.
Karna, hanya engkau yg berhak ada didalam inti hatimu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar