MURDIANSYAH
1321120040
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH BENGKULU
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PRODI
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
TAHUN
2014/2015
Kata pengantar
Puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat taufik dan
hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Penulisan makalah yang berjudul
“Masalah Pengangguran” ini, bertujuan untuk mengetahui pengaruh dan dampak dari
pengangguran terhadap masyarakat Indonesia pada umumnya.
Penulis menyadari banyak kekurangan
dalam penulisan makalah ini, itu dikarenakan kemampuan penulis yang terbatas.
Namun berkat bantuan dan dorongan serta bimbingan dari Bapak dosen mata kuliah
Pengantar Ilmu Ekonomi, serta berbagai bantuan dari berbagai pihak, akhirnya
pembuatan makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Penulis berharap dengan penulisan
makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis sendiri dan bagi para
pembaca umumnya serta semoga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk
mengembangkan dan meningkatkan prestasi di masa yang akan datang.
Daftar isi
Bab I pendahuluan
A. Latar belakang
Pembangunan (development) adalah proses perubahan
yang mencakup seluruh system sosial, seperti politik, ekonomi, infrastruktur,
pertahanan, pendidikan dan teknologi, kelembagaan, dan budaya (Alexander 1994).
Portes (1976) mendefenisiskan pembangunan sebagai transformasi ekonomi, sosial
dan budaya. Pembangunan adalah proses perubahan yang direncanakan untuk
memperbaiki berbagai aspek kehidupan masyarakat
Pokok pembangunan di indonesia diantaranya dualisme
peraturan, kependudukan dan kemiskinan, iklaim dan geografis, dan pemerataan
pembangunan. Negara indonesia termasuk dalam neara berkembang, oleh karena itu
masalah-masalah tersebut harus diselesaikan. Terutanma yang sangat menghambat
jalannya pembangunan di indonesia yaitu ketidak merataan penduduk persebaran
penduduk yang sangat padat. Dengan kepadatan penduduk tersebut maka persaingan
untuk mencari lapangan kerja sangat sulit, dan mengakibatkan pengangguran dan
Kemiskinan.
Keterbatasan lapangan pekerjaan di indonesia khuusnya di
kota-kota besar sangatlah ytinggi dari tahun ketahun, sehingga berpotensi untuk
tidak dapat tertampungnya lulusan program pendidikan di lapangan kerja setiap
tahun selalu meninggakat tidak pernah mengalami penurunan. Dan pada akhirnya
enjadi indikator keberhasilan penyelenggaraan “pendidikan” dalam mengurangi
angka kemiskinan masyarakat akan kehilangan kepercayaan secara signifikan
terhadap eksistensi lembaga yang ada.
Sementara dampak sosial dari jenis pengangguran ini relatif
lebih besar dan banyak efek negative dari hal ini salah satunya tinggkat
kriminalitas tiap daerah juga ikut bertambah karena dorongan ekonomi. Mengingat
kompleksnya masalah ini, maka upaya pemecahannya pun tidak sebatas pada
kebijakan sektor pendidikan saja, namun merembet pada masalah lain secara multi
dimensional.
Fenomena pengangguran
sering menyebabkan timbulnya masalah sosial lainnya sperti yang sudah
diterangkan di atas. Di samping tentu saja akan menciptakan angka produktivitas
sosial yang rendah, yang akan menurunkan tingkat pendapatan masyarakat
nantinya. Pengangguran merupakan masalah serius yang dihadapi dalam pembangunan
sumber daya manusia yang tengah dilakukan saat ini. Krisis ekonomi yang kini
dihadapi ternyata telah memporakporandakan tatanan kehidupan bangsa.
B. Rumusan masalah
- dampak pengangguran terhadap pembangunan nasional ?
- cara mengantasi penggangguran di Indonesia ?
C. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk menabah pengetahuan
tentang pembangunan dan masalah masalah yang dihadapi dalam penerapannya sepeti
dampak pengangguran bagi pembangunan nasional, dan adakah cara untuk mengatasi
masalah penganggura tersebut. Bagi mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan
tentang tingiinya angka pengangguran.
Diharapkan dapat menambah wawasan keilmuan dan pemerhati masalah sosial khususnya tentang penggauran. Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi yang membacanya.
Bab II pambahasan
A. Definisi Pengangguran
Pengangguran adalah orang yang masuk dalam angkatan
kerja yang sedang mencari pekerjaan dan belum mendapatkannya. Menurut
Teori Klasik (1729-1790), pengangguran itu bersifat sukarela, karena tidak
sesuainya tingkat upah dengan aspirasi pekerja. Bertambahnya jumlah
pengangguran dalam masyarakat terjadi karena orang menunggu pada masa transisi
dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain. Teori ini menyebutkan bahwa untuk
mengurangi pengangguran tidak diperlukan campur tangan pemerintah karena
pengangguran yang terjadi sifatnya sukarela. Untuk mengukur tingkat
pengangguran pada suatu wilayah bisa didapat dar prosentase membagi jumlah
pengangguran dengan jumlah angkaran kerja.Tingkat Pengangguran = Jml Yang
Nganggur / Jml Angkatan Kerja x 100%.
1. Jenis,grafik dan Macam Pengangguran
1.2 Pertumbuhan ekonomi kuartal I 2013 hanya mencapai 6,02%, tercatat paling rendah dalam tiga tahun terakhir.

1.3 Pengangguran Friksional
Pengangguran friksional adalah pengangguran yang sifatnya
hanya sementara yang disebabkan adanya kendala waktu, informasi dan kondisi
geografis antara pelamar kerja dengan pembuka lamaran pekerjaan yang menjadi
pihak penyedia.
1.4 Pengangguran Struktural
Pengangguran struktural adalah keadaan di mana penganggur
yang mencari lapangan pekerjaan tetapi tidak mampu memenuhi persyaratan yang
ditentukan pembuka lapangan kerja. Karena Semakin maju suatu perekonomian suatu
daerah terlebih di kota besar maka akan meningkatkan pula kebutuhan akan sumber
daya manusia yang memiliki kualitas yang lebih baik dari sebelum-sebelumnya.
1.5 Pengangguran Musiman
musiman adalah
keadaan menganggur karena adanya fluktuasi kegiaan ekonomi jangka pendek atau
perubahan keadaan suatu Negara secara tiba-tiba yang menyebabkan seseorang
harus nganggur. seperti petani yang menanti musim tanam, tukan jualan
duren yang menanti musim durian.
1.6 Pengangguran Siklikal
Pengangguran siklikal adalah pengangguran yang menganggur
akibat imbas naik turun siklus ekonomi sehingga permintaan tenaga kerja lebih rendah
daripada penawaran kerja.
Pengangguran juga dapat dibedakan atas pengangguran sukarela
(voluntary unemployment) dan dukalara (involuntary unemployment). Pengangguran
suka rela adalah pengangguran yang menganggur untuk sementara waktu karna ingin
mencari pekerjaan lain yang lebih baik. Sedangkan pengangguran duka lara adalah
pengengguran yang menganggur karena sudah berusaha mencari pekerjaan namun
belum berhasil mendapatkan kerja.
B. MASALAH PENGANGURAN SECARA UMUM
Masalah ketenagakerjaan di Indonesia sekarang ini sudah
mencapai kondisi yang cukup memprihatinkan ditandai dengan jumlah penganggur
dan setengah penganggur yang besar, pendapatan yang relatif rendah dan kurang
merata. Sebaliknya pengangguran dan setengah pengangguran yang tinggi merupakan
pemborosan pemborosan sumber daya dan potensi yang ada, menjadi beban keluarga
dan masyarakat, sumber utama kemiskinan, dapat mendorong peningkatan keresahan
sosial dan kriminal, dan dapat menghambat pembangunan dalam jangka panjang.
Kondisi pengangguran dan setengah
pengangguran yang tinggi merupakan pemborosan sumber daya dan potensi yang ada,
menjadi beban keluarga dan masyarakat, sumber utama kemiskinan, dapat mendorong
peningkatan keresahan sosial dan kriminal; dan dapat menghambat pembangunan
dalam jangka panjang.Pembangunan bangsa Indonesia kedepan sangat tergantung
pada kualitas sumber daya manusia Indonesia yang sehat fisik dan mental serta
mempunyai ketrampilan dan keahlian kerja, sehingga mampu membangun keluarga
yang bersangkutan untuk mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang tetap dan
layak, sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup, kesehatan dan pendidikan
anggota keluarganya.
Dalam pembangunan Nasional, kebijakan
ekonomi makro yang bertumpu pada sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter
harus mengarah pada penciptaan dan perluasan kesempatan kerja. Untuk menumbuh
kembangkan usaha mikro dan usaha kecil yang mandiri perlu keberpihakan
kebijakan termasuk akses, pendamping, pendanaan usaha kecil dan tingkat suku
bunga kecil yang mendukung.
1. Dampak buruk dari pengangguran terhadap individu masyarakat antara lain:
v
Pengangguran dapat menghilangkan mata pencaharian
v
Pengangguran dapat menghilangkan ketrampilan
v
Pengangguran akan menimbulkan ketidakstabilan social
politik.
v
Bertambahnya tingkat kemiskinan
v
Timbulnya kriminalitas di kalangan masyarakat
Pengangguran pun berdampak cukup besar dalam kehidupan
keluarga. Seorang kepala keluarga yang tidak mempunyai pekerjaan dan hanya
menganggur, maka ia akan kehilangan kemampuan dan fungsinya dalam mengemban
tanggung jawab. Bahkan keluarganya pun akan kehilangan ketenangan dan
kepercayaannya kepada sang kepala keluarga. Pada saat itulah semua anggota
keluarga mengalami depresi dan rasa khawatir yang berlebih dalam menyambut masa
depan yang tak terbayangkan.
faktor – faktor
yang mendorong timbulnya pengangguran adalah sebagai berikut:
1. jumlah pencari kerja lebih besar dari jumlah peluang kerja yang tersedia (kesenjangan antara supply and demand).
2. kesenjangan antara kompetensi
pencari kerja dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh
3. pasar kerja.masih adanya anak putus sekolah dan lulus tidak
melanjutkan yang tidak terserap dunia
4. kerja/berusaha
mandiri karena tidak memiliki keterampilan yang memadai.
terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) karena krisis global.
terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) karena krisis global.
terbatasnya sumber daya alam di
kota yang tidak memungkinkan lagi warga masyarakat
v Pengangguran Terselubung (Disguissed
Unemployment) : tenaga kerja yang tidak
v bekerja secara optimal karena suatu
alasan tertentu.
2. Setengah Menganggur (Under Unemployment) : tenaga kerja yang tidak bekerja secara
2. Setengah Menganggur (Under Unemployment) : tenaga kerja yang tidak bekerja secara
v optimal karena tidak ada lapangan
pekerjaan, biasanya tenaga kerja setengah
v menganggur ini merupakan tenaga
kerja yang bekerja kurang dari 35 jam selama
v seminggu.
3. Pengangguran Terbuka (Open Unemployment) : tenaga kerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan.
3. Pengangguran Terbuka (Open Unemployment) : tenaga kerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan.
·
pengangguran berdasarkan penyebab terjadinya
dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu :
a. Pengangguran konjungtural (Cycle Unemployment) adalah pengangguran yang
a. Pengangguran konjungtural (Cycle Unemployment) adalah pengangguran yang
o
diakibatkan
oleh perubahan gelombang (naik-turunnya) kehidupan
o
perekonomian/siklus
ekonomi.
b. Pengangguran struktural (Struktural Unemployment) adalah pengangguran yang
b. Pengangguran struktural (Struktural Unemployment) adalah pengangguran yang
o
diakibatkan
oleh perubahan struktur ekonomi dan corak ekonomi dalam jangka panjang.
2. adalah beberapa penyebab pengangguran yang umum terjadi di Indonesia.
2.1 Pendidikan rendah.
pendidikan yang rendah dpat menyebabkan seseorang kesulitan
dalam mencari pekerjaan. Di karenakan semua perusahaan membutuhkan pegawai
seminimal SMA.
2.2 Kurangnya keterampilan.
Banyak mahasiswa atau lulusan SMA yang sudah mempunyai
kriteria dalam bekerja,namun dalam teknisnya keterampilannya masih kurang.
Sehingga susah dalam mencari pekerjaan.
2.3 Kurangnya lapangan pekerjaan.
Setiap tahunnya, Indonesia memiliki jumlah lulusan sekolah
atau kuliah yang begitu tinggi. Jumlah yang sangat besar ini tidak seimbang
dengan lapangan pekerjaan yang ada, baik yang di sediakan oleh pemerintah
maupun swasta.
2.4 Kurangnya tingkat EQ masyarakat.
Tingkat
EQ meliputi kemampuan seseorang dalam mengandalikan emosi, yang berpengaruh
terhadap keterampilan berbicara/berkomunikasi, bersosialisasi,
kepercayaan diri, dan sifat lainnya yang mendukung dalam hidup di masyarakat.
2.5 Rasa malas dan ketergantungan diri pada orang lain.
Misalnya
ada seorang lulusan sarjana yang kemudian tidak mau bekerja dan lebih suka
menggantungkan hidup kepada orang tua atau pasangannya bila sudah menikah. Ia
termasuk pengangguran, selain itu ia melewatkan peluang untuk menciptakan suatu
lapangan pekerjaan bagi orang lain.
Umumnya sesorang yang baru lulus sekolah/kuliah terpaku
dalam mencari pekerjaan, seolah itu adalah tujuan yang sangat mutlak. Sehingga
persaingan mencari pekerjaan lebih besar di bandingkan membuat suatu usaha.
Kebijakan Pemerintah Pusat dengan kebijakan Pemerintah
Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota harus merupakan satu kesatuan yang
saling mendukung untuk penciptaan dan perluasan kesempatan kerja.Permagangan
mungkin salah satu alternatif solusi praktis dan tepat. Hal ini didasarkan
bahwa dunia usaha terkesan tertutup terhadap mahasiswa yang datang untuk
melakukan kegiatan penelitian (riset) sehingga menguatkan adanya kesenjangan
tersebut. Tapi ini juga belum ditangani secara serius dan terpadu.
Salah satu bentuk pengangguran yang populer dewasa ini
adalah pengangguran terdidik. Kekurangselarasan antara perencanaan pembangunan
pendidikan dengan perkembangan lapangan kerja merupakan penyebab utama
terjadinya jenis pengangguran ini. Pengangguran terdidik secara potensial dapat
menyebabkantimbulnya masalah-masalah sosial dengan tingkat rawan yang lebih
tinggi, menciptakan pemborosan sumber daya pendidikan, menurunkan apresiasi
masyarakat terhadap pendidikan.
Menurunnya
apresiasi masyarakat terhadap pendidikan itu di , ditandai oleh:
- berkurangnya jumlah siswa (di samping akibat keberhasilan KB).
- meningkatnya jumlah tenaga kerja (TK) unskill and uneducated dalam sektor sekunder.
- rendahnya angka melanjutnya pendidikan (di Jawa Barat hanya 57% lulusan SD meneruskan ke SMP).
- meningkatnya jumlah pengguna jasa pendidikan luar negeri.
3.Dampak pengangguran terhadap pembangunan nasional
Jika
tingkat pengangguran tinggi, sumber daya menjadi terbuang percuma dan tingkat
pendapatan masyarakat akan merosot. Sehingga menghambat beberapa faktor
pembangunan nasional, seperti :
3.1 Pendapatan nasional dan pendapatan perkapita.
Upah merupakan salah satu komponen dalam penghitungan
pendapatan nasional. Apabila tingkat pengangguran semakin tinggi, maka nilai
komponen upah akan semakin kecil. Dengan demikian, nilai pendapatan nasional
pun akan semakin kecil.Pendapatan per kapita adalah pendapatan nasional dibagi
jumlah penduduk. Oleh karna itu, nilai pendapatan nasional yang semakin kecil akibat
pengangguran akan menurunkan nilai pendapatan per kapita.
3.2 Beban psikologis
Semakin lama seseorang menganggur, semakin besar beban
psikologis yang harus ditanggung. Secara psikologis, orang yang menganggur
mempunyai perasaan tertekan, sehingga berpengaruh terhadap berbagai perilakunya
dalam kehidupan sehari-hari. Dampak psikologis ini mempunyai efek domino di
mana secara sosial, orang menganggur akan merasa minder karena status sosial
yang tidak atau belum jelas.
3.3 Biaya sosial
Dengan semakin besarnya jumlah pengangguran, semakin besar
pula biaya sosial yang harus dikeluarkan. Biaya sosial itu mencakup biaya atas
peningkatan tugas-tugas medis, biaya keamanan, dan biaya proses peradilan
sebagai akibat meningkatnya tindak kejahatan.
3.4 Penerimaan negara
Salah satu sumber penerimaan negara adalah pajak, khususnya
pajak penghasilan. Pajak penghasilan diwajibkan bagi orang-orang yang memiliki
pekerjaan. Apabila tingkat pengangguran meningkat, maka jumlah orang yang
membayar pajak penghasilan berkurang. Akibatnya penerimaan negara pun
berkurang.Beberapa faktor di atas dapat menghambat pembangunan nasional yang
bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat. Baik berupa penbangunan sistem
sosial, politik, ekonomi, infrastruktur, pertahanan, pendidikan dan teknologi,
kelembagaan, dan budaya.
4.Cara mengatasi pengangguran di Indonesia
1. Cara mengatasi Pengangguran Siklis.
Pengangguran siklis adalah pengagguran yang diakibatkan oleh menurunya kegiatan perekonomian karena resesi. Penurunan kegiatan perekonomian umumnya dimulai dengan melemahnya permintaan akan barang. Akibat penurunan permintaan, produksi barang juga akan berkurang. Dampak pengurangan produksi adalah terjadinya penurunan investasi.
Untuk mengatasi pengangguran siklis diperlukan beberapa langkah-langkah antara
lain
peningkatan daya belu masyarakat. Pemerintah harus membuka proyek yang bersifat
umum, seperti membangun jalan, jembatan, irigasi, dan kegiatan lainnya. Cara
lain adalah dengan mengarahkan permintaan masyarakat untuk membeli barang dan jasa,
serta memperluas pasar barang dan jasa.
.2 Cara mengatasi pengangguran struktural
pengangguran
struktural adalah pengangguran yang diakibatkan perubahan struktur ekonomi,
misalnya dari ekonomi yang bersifat agraris bergeser ke ekonomi industri. Pergeseran
ini lebih menitikberatkan penyesuaian karakter dan budaya pekerja sektor
industri. Untuk mengatasi pengangguran struktural diperlukan berbagai langkah
seperti pengadaan pendidikan dan pelatihan sebagai langkah seperti pengadaan
pendidikan dan pelatihan sebafai persiapan untuk berkarir pada pekerjaan yang
baru, memindahkan tenaga kerja dari tempat yang tidak membutuhkan ke tempat
yang membutuhkan, meningkatkan mobilitas tenaga kerja dan modal yang ada, dan
mendirikan industri yang bersidat padat karya, sehingga mampu menampung tenaga
kerja yang menganggur.
3. Cara mengatasi
pengangguran friksional
Pada dasarnya, pengangguran friksional tidak dapat dihilangkan sama sekali dan hanya dapat dikurangi. Cara mengatasi penfanffuran friksional adalah mengusahakan inforamasi yang lengkap tentang permintaan dan oenawaran tenaga kerja, sehingga proses pelamaran, seleksi, dan pengambilan keputusan menerima atau tidak berlangsung lebih cepat. Cara lain adlah menyusun rencana penggunanaan tenaga kerja sebaik mungkin.
4. Cara mengatasi pengangguran musiman
Pengangguran musiman adalah pengangguran yang terjadi pada musim-musim tertentu, seperti petani yang menganggur setelah musim tanam. Pengangguran seperti ini dapat diatasi dengan pemberian informasi yang jelas tentang adanya lowongan kerja pada bidang lain dan melatih seorang agar memiliki keterampilan untuk dapat bekerja pada "masa menunggu" musim tertentu.
Banyak
upaya yang telah dilakukan pemerintah selama ini dalam mengurang jumlah
pengangguran di Indonesia, namun masih saja pengangguran tidak berkurang bahkan
lebih bertambah setiap tahunnya di karenakan tidak seimbangnya jumlah pencari
kerja dan lapangan pekerjaan.
Menurut
Paul A. Samuelson dan Wiliam D. Nurdhaous dalam bukunya Ekonomi mengemukakan
cara-cara mengatasi pengangguran yaitu sebagai berikut:
- Memperbaiki pasar tenaga kerja
- Menyediakan program pelatihan
- Menciptakan program padat karya
Selain
hal tersebut di atas, sesuai dengan GBHN 1999, pemerintah Indonesia hendaknya:
Mengembangkan
tenaga kerja secara menyeluruh dan terpadu yang diarahkan pada peningkatan
kompetensi dan kemandirian tenaga kerja peningkatan pengupahan, penjaminan
kesejahteraan, perlindungan kerja dan kebebasab berserikat, dan
Meningkatkan
kualitas dan kuantitas penempatan tenaga kerja ke luar negeri dengan
memerhatikan kompetensi, perlindungan, dan pembelaan tenaga kerja yang di
kelola secara terpadu dan mencegah timbulnya eksploitasi tenaga kerja.
Ada
berbagai cara dalam mengatasi pengangguran,yaitu :
- Peningkatan Mobilitas Tenaga kerja dan Modal
- Penyediaan Informasi tentang Kebutuhan Tenaga Kerja
- Program Pendidikan dan Pelatihan Kerja
- Menggalakkan program transmigrasi
- Meningkatkan dan mendorong kewiraswastaan
- Mengintensifkan program keluarga berencana
- Menekan impor dan memperbanyak ekspor
Hal
hal di atas adalah beberapa cara yang dapat di gunakan pemerintah dalam
mengurangi pengangguran di Indonesia dan dapat memperkuat ekonomi Indonesia.
Namun pemerintah tidak akan bisa menjalankan program – program tersebut jika
tanpa adanya kerjasama dengan pihak swasta dan masyarakat.
5.Pemberdayaan Masyarakat dalam Menanggulangi Pengangguran dan Kemiskinan
Pengangguran dan kemiskinan bersumber pada lemahnya potensi
manusia dan kurangnya dukungan lingkungan dalam memanfaatkan potensi alam
dan sumberdaya yang tersedia. Untuk memecahkan masalah tersebut ditempuh
melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat (A. Soedijar, 2003).
Lemahnya informasi IPTEK, kurangnya ketrampilan dan
pengalaman praktikal, merupakan factor-faktor yang mempengaruhi lemahnya
potensi sumberdaya manusia dalam mengelola sumberdaya alam dan lingkungan
sosialnya. Kondisi sosial-budaya masyarakat tidak selamanya mendukung
peningkatan potensi warganya, adakalanya malah menghambat
kemajuan masyarakat itu sendiri. Di lain pihak keberadaan manusia,alam
dan lingkungan sosial merupakan potensi yang sangat bermanfaat bagi
perkembangan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraannya.
Dalam penanggulangan pengangguran dan kemiskinan
dengan jalan pemberian bantuan kebutuhan hidup seketika, bukanlah upaya
memecahkan masalah, namun hanya merupakan bantuan sementara. Upaya itu
perlu diikuti dan dilengkapi oleh bantuan yang bersifat pemberdayaan segenap
potensi masyarakat. Kelengkapan penunjang yang diperlukan dalam upaya
pemberdayaan masyarakat meliputi sumberdana, IPTEK, tenaga, sarana dan
prasarana, yang kesemuanya itu dapat digali dan diperoleh dari
Pemerintah, Lembaga Non Pemerintah, dan Masyarakat. Pemberdayaan
memerlukan sentuhan teknologi karena padahakekatnya pemberdayaan
masyarakatadalah perubahan sosial untuk memanfaatkan sumberdaya
alam dalam rangka meningkatkan kesejahtyeraan sesuai dengan suasana sosial
budayadan sosial ekonomi yang ada.
Tujuan pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan pengangguran
dan kemiskinan pada hakekatnya adalah penciptaan dan pengembangan lapangan
kerja. Oleh karena itu kegiatan yang menjadi sasaran adalah sektor yang
banyak menampung lapangan kerja, yaitu sektor informal, industri rumah
tangga dan sektor perikanan.
Pemberdayaan masyarakat dengan menggunakan pendekatan
pekerjaan social, pada dasarnya mendorong kelompok masyarakat bermasalah
sosial dengan memanfaatkan segenap potensi yang ada pada masyarakat itu
sendiri, serta melibatkan sumber di luar masyarakat tersebut agar mereka dapat
mandiri mengatasi masalahnya.
Pemberdayaan dilaksanakan melalui usaha sosial ekonomi
produktif (USEP) atau UUEP (Unit Usaha Ekonomi Produktif) dengan
pendekatan pekerjaan sosial yaitu memberikan ketrampilan dan bimbingan serta bantuan
stimulus sebagai modal awal usaha . Kegiatan dilaksanakan secara
kelompok (Kelompok). Usaha produktif (USEP dan UUEP ) yang berorientasi
kegiatan ekonomi produktif, bercirikan koperasi yang berorientasi kepada
pengembangan potensi dan sumberdaya alam serta lingkungan sosialnya, sumberdaya
manusia dan kemungkinan peluang pemasaran produk-produknya.
Dalam Kelompok USEP dan UUEP ini dikenal Kelompok yang
homogen dan Kelompok yang heterogen. Kelompok homogen yaitu para
anggotanya terdiri atas anggota masyarakat secara spesifik, seperti Fakir
Miskin, Komunitas adat terpencil, Penyandangcacat,
Anak terlantar, Lanjut Usia Terlantar, Wanita
rawan sosial-ekonomi, Keluarga muda mandiri, dan lainnya. Sedangkan
Kelompok yang heterogen terdiri atas gabungan berbagai ragam anggota. Sesuai
dengan kemajuannya, Kelompok digolongkan berdasarkan kriteria yang telah
ditetapkan menjadi (1) Kelompok Tumbuh, (2) Kelompok Berkembang, (3) Kelompok
Mandiri.
Selanjutnya apabila suatu Kelompok telah mencapai Mandiri, maka
pembinaan selanjutnya dikaitkan dengan kegiatan Koperasi (Embrio Koperasi).
Bab III penutup
A.Kesimpulan
Pengangguran merupakan faktor penting dalam pembangunan
nasional baik jangka panjang maupun jangka pendek. Pengangguran harus segera di
atasi agar ekonomi indonesia bisa lebih baik dan mampu bersaing dengan luar
negeri. Pemerintah diharapakan dapat mengatasi pengangguran dengan menyediankan
lapangan pekerjaan atau program-program bina usaha untuk masyarakat kecil.Pengangguran
terjadi disebabkan antara lain, yaitu karena jumlah lapangan kerja yang
tersedia lebih kecil dari jumlah pencari kerja. Juga kompetensi pencari kerja
tidak sesuai dengan pasar kerja. Selain itu juga kurang efektifnya informasi
pasar kerja bagi para pencari kerjaSetiap penganggur diupayakan memiliki
pekerjaan yang banyak bagi kemanusiaan artinya produktif dan remuneratif sesuai
Pasal 27 Ayat 2 UUD 1945 dengan partisipasi semua masyarakat Indonesia. Lebih
tegas lagi jadikan penanggulangan pengangguran menjadi komitmen nasional.
Untuk itu diperlukan dua kebijakan, yaitu kebijakan makro
dan mikro (khusus). Kebijakan makro (umum) yang berkaitan erat dengan
pengangguran, antara lain kebijakan makro ekonomi seperti moneter berupa uang
beredar, tingkat suku bunga, inflasi dan nilai tukar yang melibatkan Bank
Indonesia (Bank Sentral), fiskal (Departemen Keuangan) dan lainnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar